algoritma jodoh

apakah kita kehilangan kehendak bebas saat cinta diatur oleh data

algoritma jodoh
I

Malam Minggu, hujan rintik di luar, dan kita mungkin sedang duduk bersandar sambil santai menggeser layar ponsel ke kanan dan ke kiri. Pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di ujung jari kita? Dulu, umat manusia sangat percaya pada kebetulan yang puitis. Kita percaya pada takdir pertemuan di rak toko buku, atau pandangan pertama di sebuah pesta. Sekarang, dewa asmara itu telah berganti wujud menjadi deretan kode komputer. Kita menyerahkan urusan paling purba dan intim dalam hidup manusia—yaitu cinta—kepada mesin pencari. Rasanya sangat praktis dan efisien. Tapi di balik kemudahan itu, sadarkah kita ada satu pertanyaan filosofis yang diam-diam menyelinap: apakah kita masih punya kehendak bebas saat memilih pasangan, atau kita sekadar boneka dari mahadata?

II

Mari kita mundur sebentar untuk melihat gambaran besarnya. Secara historis, selama ribuan tahun, perjodohan manusia murni urusan bertahan hidup. Pernikahan adalah transaksi ekonomi atau aliansi politik antarkeluarga. Ide tentang mencari "cinta sejati" untuk menikah sebenarnya adalah penemuan sejarah yang lumayan modern. Lalu, melompatlah kita ke abad 21 yang serba digital. Kini, kita seolah punya kebebasan absolut. Kita bisa melihat ribuan wajah dalam satu jam. Namun, di balik layar antarmuka yang warna-warni itu, bekerja sebuah sistem matematika yang sangat dingin. Mesin ini mencatat seberapa milidetik kita berhenti menatap sebuah foto. Ia menganalisis ras wajah, hobi, bahkan struktur kalimat yang kita tulis di profil. Perlahan tapi pasti, sistem ini membangun profil psikologis kita. Semakin sering kita bermain aplikasi, semakin presisi mesin ini menyortir siapa yang pantas kita temui. Terdengar seperti keajaiban teknologi yang luar biasa, bukan? Tapi mari kita tahan napas sebentar, karena ini baru lapisan pertama dari sebuah eksperimen sosial yang masif.

III

Di titik inilah situasi menjadi sangat menarik untuk dikritisi. Saat menggeser layar, kita merasa memegang kendali penuh. Jari kitalah yang bergerak, jadi kitalah bosnya. Namun, ilmu psikologi punya peringatan keras soal ini melalui konsep paradox of choice. Ketika otak manusia dihadapkan pada terlalu banyak pilihan, kita tidak menjadi lebih rasional. Sebaliknya, otak kita kelebihan beban (cognitive overload) dan cenderung membuat keputusan impulsif dan dangkal. Menariknya, algoritma sangat memahami celah kelemahan neuro-biologis ini. Mesin tidak sekadar menyodorkan semua orang di kota kita. Mereka menyaring, membatasi, dan mendikte siapa yang boleh kita lihat hari ini dan siapa yang sengaja disembunyikan. Jika sebuah etalase toko sudah diatur sedemikian rupa oleh si pemilik agar kita membeli barang tertentu, apakah kita benar-benar "memilih" barang tersebut atas kemauan sendiri? Apakah rasa penasaran kita pada seseorang di aplikasi murni karena daya tariknya, atau sekadar hasil perhitungan probabilitas dari sistem collaborative filtering yang manipulatif?

IV

Bersiaplah, karena fakta ilmiah di balik layar ini mungkin akan sedikit mengubah cara pandang kita. Realitas dari hard science menunjukkan bahwa algoritma aplikasi kencan tidak dirancang untuk mencarikan kita cinta sejati. Tujuan utama dari kode-kode raksasa ini adalah retensi—yaitu memastikan kita tidak pernah menghapus aplikasi tersebut. Dalam dunia neurosains, cara kerjanya mirip dengan mesin judi. Setiap kali kita mendapat notifikasi match, otak kita disuntik dengan hormon dopamin. Algoritma sengaja mendesain pemberian hadiah emosional ini secara acak, sebuah teknik psikologi yang disebut variable reward schedule. Teknik inilah yang membuat otak kita kecanduan untuk terus menggeser layar. Jadi, menjawab pertanyaan soal kehendak bebas: ya, sains membuktikan bahwa kita memang sedang disetir secara tak kasatmata. Kita tidak kehilangan kehendak bebas sepenuhnya, tetapi opsi-opsi kita telah dipagari dengan ketat oleh data. Kita diarahkan untuk menyukai profil tertentu karena mesin tahu, secara statistik, profil itulah yang paling memicu lonjakan dopamin di otak kita. Pada tahap ini, romansa telah sukses diretas.

V

Namun teman-teman, jangan buru-buru melempar ponsel atau bersumpah untuk kembali ke cara kencan abad pertengahan. Memahami fakta ilmiah ini justru mengembalikan kekuatan yang sempat hilang ke tangan kita. Aplikasi kencan tetaplah sebuah alat, bukan peramal takdir yang absolut. Kita bisa tetap menikmati kemudahan teknologi ini, asalkan kita sepenuhnya sadar akan aturan mainnya. Algoritma memang bisa memprediksi ketertarikan visual kita berdasarkan kebiasaan klik kita di masa lalu. Ia bisa menjadi makcomblang digital yang efisien. Namun, matematika sekompleks apa pun di Silicon Valley belum ada yang mampu memprediksi chemistry murni manusia. Algoritma tidak tahu bagaimana rasanya bertatap muka, kehangatan dari nada suara yang tulus, atau tawa canggung yang pecah di sebuah kedai kopi. Pada akhirnya, data hanya bertugas membukakan pintu. Namun, kehendak bebas kitalah yang memutuskan apakah kita mau melangkah masuk, duduk, dan merawat hubungan tersebut atau tidak. Mari biarkan mesin melakukan tugas kasarnya menyortir data, dan mari kita sebagai manusia, mengambil alih kembali keindahan dalam merajut rasa.